Sebelum beroperasinya jalur Transjakarta koridor IX pada hari Jumat 31 Desember 2010, saya pergi ke kampus dengan menggunakan angkutan umum. Well, agak ribet sih karena angkutan yang biasa saya dan sepupu saya tumpangi cukup susah. Sebab kami harus naik bus ke arah Cawank bawah dari stasiun Cawank yang jaraknya menurut saya nanggung, tapi kalau jalan kaki juga lumayan. Nah dari Cawank bawah, kami menunggu bus yang lumayan lama yang akan menghantarkan kami ke kampus. Terpaksa dilakukan karena pastinya sudah tahu kantong mahasiswi sangatlah terbatas, untuk itu penghematan memang harus dilakukan. Selain naik bus, sebenarnya juga bisa naik mikrolet ke kampus kami yang berada di kawasan Salemba, tapi ongkosnya 2x lipat lebih mahal.
Dan setelah koridor busway jurusan Pluit - Pinang Ranti dan Grogol - Cililitan atau istilah sebenarnya adalah Transjakarta, karena busway sendiri artinya 'jalur bus' beroperasi, kami memutuskan untuk naik Transjakarta ke kampus yang biayanya lebih irit. Dan bukan hanya itu, Transjakarta juga lebih nyaman, aman, praktis ketimbang naik bus. Inilah awal pertama kalinya saya menjadi 'anak Transjakarta' yang berarti kemana-mana naik Transjakarta atau yang lebih dikenal dengan 'busway'.
Setengah tahun 'busway' atau 'transjakarta' menemani perjalanan saya menuju kampus, bahkan bukan hanya itu, pergi ke mana pun sekarang lebih suka naik 'busway' ketimbang naik angkutan umum. Walau sudah banyak kekurangan-kekurangan yang membuat saya menarik nafas sedalam-dalamnya, tetap saja pilihan transportasi saya adalah 'busway'. Di bawah ini saya akan mengulas beberapa kekurangan-kekurangan yang membuat saya pusing tujuh keliling versi saya :
1. Diawali dari armadanya yang sedikit. Batas normal menunggu angkutan transportasi adalah 5 menit. Itu adalah waktu menunggu bus di luar negeri. Andaikan bus transjakarta seperti ini, pasti saya tidak akan bertarung dengan waktu untuk segera sampai ke tempat tujuan. So, you know that time is money, aren't you??? Yapppp, kalau bus transjakarta bisa tepat waktu, pastinya waktu untuk melakukan hal yang bermanfaat akan lebih banyak. Pernah saya sepulang dari Monas, dan akan naik 'busway' arah PGC, saya menunggu selama hampir 2 jam. Antrian sudah sangat panjang, para penumpang pun sudah berceloteh yang macam-macam tentang lamanya bus transjakarta ini. Tidak lama setelah itu, salah satu petugas bus transjakarta berbadan gemuk menghampiri para penumpang jurusan PGC dan berkata bahwa bus paling dekat sedang berada di Kp. Melayu. Kontan semuanya langsung marah-marah. Ada yang langsung pindah tujuan bus seperti saya, yang pindah ke jurusan Blok M, ada yang tetap menunggu, dan tak banyak pula yang ikut marah-marah kepada petugas bus transjakarta tersebut. Niat saya sepulang dari sana mau mengerjakan tugas kampus, jadi ketiduran gara-gara capek bertarung dengan bus transjakarta.
2. Petugasnya kadang tak pandai mengatur penumpang. Yaaapppp, benar sekali. Sudah tahu kan bahwa udah ada peraturan bahwa kaum wanita di depan dan kaum laki-laki di belakang? Tapi kenapa ya petugas pintu 'busway' nya terkadang membiarkan kaum laki-laki masih tetap berada di depan? Susah pindah karena terlalu penuh? Nah ini dia yang membuat rada jengkel dengan transportasi yang satu ini. Suatu hari, saat saya pergi ke kampus, bus sudah jelas terlihat penuh, paling tidak di setiap halte hanya ada 1-3 penumpang yang turun, akan tetapi, jumlah penumpang yang masuk melebihi jumlah penumpang yang turun, terjadilah saling desak-desakkan yang menyebabkan kembalinya kaum lelaki bercampur dengan kaum wanita. Jumlah penumpang yang masuk bisa dibilang melebihi kapasitas dari jumlah kapasitas normal yaitu 85 penumpang tiap bus nya. Selain itu juga kurang bisa menghandle penumpang yang akan masuk ke dalam bus. Dorong-dorongan saat memasuki bus sudah menjadi tradisi bus transjakarta.
3. Jalur bus sering dilewati oleh transportasi lain. "Sekarang naik 'baswe' sama aje. Macet-macet juga," keluh seorang teman. Jadi, siapa yang harus disalahkan? Angkutan umum yang main nyerobot jalur busway ataukah pembangunan bus transjakarta yang mengambil jalur sendiri disela jalanan di Jakarta yang sudah cukup macet? No comment deh! Jalur bus transjakarta yang dibuat memang menyebabkan jalanan semakin sempit. Untuk itu banyak transportasi lain mengambil jalur bus transjakarta supaya bisa cepat mengakhiri kemacetan di Ibu Kota. Oleh sebab itu bus transjakarta juga ikut mengalami kemacetan walau sudah punya jalur sendiri dan hanya bus transjakartalah yang dapat melewatinya.
4. Sering mogok di tengah jalan. Baru saja melewati satu halte, eh bus transjakarta yang saya tumpangi mogok di jalan. Inilah permasalahan bus transjakarta belakangan ini. Alhasil harus menunggu bus berikutnya padahal hari itu saya ada UAS. Menunggu lagi deh.
Well, saya rasa masih ada lagi kekurangannya. Namun, setiap ada kekurangan, pastilah ada kelebihannya. Biaya murah kalau berpergian jauh, lebih nyaman daripada angkutan umum, praktis.
Dan di bawah ini beberapa ulasan dari kekurangan angkutan umum (bus, kopaja, metromini, dll) versi saya :
1. Panas. Panas mesin dan panas alami yang terjadi karena tidak adanya pendingin/AC.
2. Supir ugal-ugalan. Memang sudah bukan hal yang tabu lagi supir angkutan umum ugal-ugalan. Apalagi kalau bertemu dengan bus yang sama jenis melintas di jalan yang sama, pastilah sang supir bus saling kebut-kebutan layaknya sedang track-trackan tanpa memperhatikan keselamatan penumpangnya.
3. Menurunkan penumpangnya di sembarang tempat. Ya, ini yang bikin saya sangat kesal. Kadang bus juga sering kali memasuki jalur bus transjakarta, akibatnya, saya harus menyebrang jalan setelah turun dari bus tersebut.
4. Banyak yang genit, pengamen, tukang jualan. Sebenarnya gak di mana-mana juga banyak yang genit. Tapi kalau di angkutan umum seperti kopada dan metromini lain ceritanya. Di dalam bus seperti 'bebas'. Elo-elo, gue-gue. Jadi kalau ada yang 'genit' itu tidak akan terlalu diekspos penumpang lainnya. Tidak menutup kemungkinan ada orang 'genit' di bus transjakarta. Hanya saja pastilah ada rasa malu.
Sebenarnya sih, naik angkutan umum atau busway sama saja. sama-sama mengantarkan kita ke tempat tujuan. Hanya saja sebagian besar orang memilih untuk naik kendaraan pribadi daripada naik angkutan umum ataupun busway. Alasannya????? Mungkin sebagian besar orang mengganggap lebih praktis dan menghemat waktu perjalanan sehingga cepat sampai tujuan.Ya tergantung pribadi masing-masing lebih suka naik kendaraan apa :D
Coba aja kalau supir angkutan umum bisa menyetir dengan baik atau minimal diajarkan cara menyetir yang baik sehingga tidak lagi ugal-ugalan, menurunkan penumpangnya di tempat yang aman, nggak nyerobot jalur busway, dll. Pasti Jakarta semakin nyaman, orang-orang yang mau meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum pun akan semakin banyak.
lebih suka naik angkutan umum, Transjakarta (busway), atau kendaraan pribadi????
05.33 |
Labels:
corat-coret
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 comments:
Posting Komentar